DUNIA BLOGGER , TUTORIAL COSPLAY DARI KABUPATEN KEBUMEN COSPLAY KAMEN RIDER DAN LAINYA BLOG TENTANG SEMUA GALAUANKU, ADA KOMIK CERITA PENDEK, ART AND ARTISTIK, CERITA KEHIDUPANKU,TUTORIAL,MATERI PEMBELAJARAN KALAU ADA, AAAAAAACHHHH.....

Rabu, 24 Oktober 2012

Menjadi Guru Penuh Makna



Memahami kepribadian anak
Fase 0 sampai 3 tahun. Pada fase ini moralitas anak mulai dibentuk. Anak sudah dapat diperkenalkan pada sopan santun serta perbuatan baik-buruk. Pada fase ini, anak mencoba-coba melanggar aturan, sulit diatur, nakal, dan lain-lain. Jadi, sikap seorang guru dalam fase ini adalah kesabaran
Fase usia 4 tahun. Indikasi perilaku pada fase ini adalah senang melanggar aturan, memamerkan diri, dan memaksakan kinginannya. Fase ini disebu sebagai fase egosentris. Pada fase ini, sebetulnya anak sangat mudah di dorong untuk berbuat baik dan sudah memiliki kemampuan berempati.
Fase 4,5 sampai 6 tahun. Pada fase ini, anak mulai menunjukkan sifat penurutnya dan mulai bisa diajak kerjasama. Dalam bersosialisasi dengan teman-temannya, ia juga bisa menerima pendapat atau pandangan teman-temannya. Jadi, pada usia ini, anak terlihat lebih matang. Pada fase usia ini, seorang guru mulai memotivasi anak untuk bersikap baik dan melakukan hal-hal yang positif pula

Belajar dari anak usia dini
Anak kecil selalu menarik perhatian orang dewasa melalui elucuan, keriangan, keluguan, bahkan kenakalan sekalipun mereka bukan keluarga kita tetap peduli. Orang dewasa yang normal pasti peduli, suka, dan sayang pada anak kecil meskipun mereka kerap menjengkelkan. Salah satu contohnya ketika merengek minta sesuatu hingga menangis bahkan mengamuk. Lupa waktu dan selalu ingin bermain. Meski demikian, sebagai guru harus mampu melihat perilaku anak kecil dengan pikiran positif, sabar, dan mengambil makna dari perilaku anak kecil tersebut. Anak kecil memiliki kepolosan, kesucian, dan kejujuran sehingga jika kita ingin disukai dan menarik perhatian serta kepedulian hendaklah kita polos, bersih, dan jujur terutama menghadapi anak usia dini

Harapan dan motivasi
Harapan lahir dari kepekaan seseorang akan kemungkinan-kemungkinan bahwa perubahan ke arah lebih baik pasti akan terjadi. Guru tidak sekedar menunggu namun turut serta dalam mempercepat harapan diiringi dengan motivasi untuk selalu berbuat lebih baik sebagai manifestasi kebaikan melalui perencanaan yang baik

Strategi Menumbuhkan Motivasi
Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa yaitu sebagai berikut:
1.      Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
2.      Hadiah. Guru memberikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3.      Saingan/kompetisi. Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya dan berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4.      Pujian. Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian.  Pujian itu bersifat membangun.
5.      Hukuman. Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
6.      Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar. Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar