DUNIA BLOGGER , TUTORIAL COSPLAY DARI KABUPATEN KEBUMEN COSPLAY KAMEN RIDER DAN LAINYA BLOG TENTANG SEMUA GALAUANKU, ADA KOMIK CERITA PENDEK, ART AND ARTISTIK, CERITA KEHIDUPANKU,TUTORIAL,MATERI PEMBELAJARAN KALAU ADA, AAAAAAACHHHH.....

Kamis, 25 Oktober 2012

PENGEMBANGAN RPP PAI DI MADRASAH


PENGEMBANGAN RPP DI MADRASAH
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah pengembangan kuikulum PAI di madrasah
SI/PAI/V/B
Dosen :Dr.H. Rahmat R.Syatibi, M.Ag
 



Oleh
Ananda yoshinta
NIM.2083141
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA
(STAINU) KEBUMEN
2010

KATA PENGANTAR
             Alhamdulillahirobil’alamin,puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis mampu melakukan proses penyusunan makalah dengan judul ”pengembangan rpp pai di madrasah” dengan baik dan tepat waktu sebagai tugas dari mata kuliah pengembangan kurikulum PAI di madrasah
Sebagaimana kita ketahui bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen perencanaan pembelajaran untuk mencapai satu komputensi atau lebih koputensi dasar yang ditetapkan  dalam standar isi dan silabus,RPP merupakan komponen penting dari kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang pengembangannya harus dilakukan secara professional.
Dalam menyusun makalah ini, penulis menyadari bahwa makalah ini belum bisa dikatakan sempurna karena keterbatasan wawasan dan referensi yang digunakan oleh penulis sehingga perlu adanya masukan yang membangun dan positif sebagai bahan evaluasi agar makalah ini menjadi lebih baik dalam penyusunan makalah ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kaih kepada pihak yang membantu baik secara mteari maupun non materi,tidak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak DR.Rahmat R.Syatibi,M.Ag selaku dosen yang telah membimbing penulis
Penulis berharap makalah ini dapat berguna dan bermanfaat khusunya bagi penulis sendiri dan bagi para pembaca pada umumnya .Amiin..



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Penetapan undang-undang  pemerintah No 41 tahun 2007 memberikan suatu kebebasan kepada setiap guru untuk mengembangkan silabus menjadi rencana pelaksanaan pembelajaran yang dapat di kembangkan,baik oleh guru sekolah umum maupun sekolah madrasah,
Rencana pelaksanaan pembelajaran disusun secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran dapat berlangsung secara interaktif,inspiratif, menantang, memotivasi peserta didik agar berperan aktif ,serta memberikan ruang yang cukup bagi prakasa ,kreatifitas,bakat serta minat sesuai dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik.
RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan selama satu kali pertemuan atau lebih,guru merancang untuk setiap kali pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.

B.     Perumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas muncul beberapa pertanyaan tentang pengembangan perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang dijadikan sebagai rumusan masalah:
1.      Perlunya guru mengembangkan RPP khususnya di dalam madrasah
2.      Bagaimana langkah-langkah penysunan RPP agar RPP sesuai dengan tujuan pembelajaran
3.      Pihak-pihak terkait  dalam pengembangan kurikulum
C.     Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah tentang pengembangan RPP ini antara lain :
1.      RPP merupakan bentuk suatu pedoman dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan pendidikan yang dibuat oleh pendidik untuk mendalami dan memahami beberapa prinsip,tujuan dan fungsi serta langkah-langkah penyusunan RPP
2.      Dengan  adanya RPP,kegiatan belajar  akan lebih terarah dan tujuan dari pembelajaran  akan dapat terwujud
D.    Kegunaan
1.      Penulisan makalah ini diharapkan bisa memberikan manfaat bagi :
2.      Penulis sebagai media belajar dan pendalaman materi  pengembangan kuriulum di madrasah khususnya tentang Perncanaan peaksanaan pembelajaran
3.      Teman-teman mahasiswa sebagai alon guru dalam mempelajari langkah-langkah dala pengembangan RPP
4.      Para guru sebagai rujukan dalam penguasaan langkah-langkah penyusunan RPP
5.      Para pembaca pada umumnya




BAB II
PENGEMBANGAN RPP DI MADRASAH
A.    Pengembangan Rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP)
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih,tugas guru yang paling utama terkait dengan RPP berbasis kurikulum KTSP adalah menjabarkan silabus pembelajaran ke dalam RPP yang lebih operasional dan terinci,serta siap dijadikan pedoman pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar[1] 
Dalam pengembangan RPP guru diberi kebebasan untuk mengubah, memodifikasi, menyusaikan silabus sesuai dengan kondisi sekolah dengan karakteristik peserta didik dan karakter guru sendiri dalam menjabarkan menjadi RPP yang siap di implementasikan menjadi rencan pembelajaran dan siap di jadikan pedoman pembentukan kompetensi peserta didik oleh karena itu ,guru di tuntut memahami asoek yang terkait dengan hakikat,fungsi,prinsip, dan prosedur pengembangan, serta cara mengukur efektivitas pelaksanaan pembelajaran[2]  RPP  idealnya di buat oleh guru sendiri karena guru lebih paham kondisi peserta didik yang akan diajar, sehingga pengembangan pengalaaman pembelajaran dan indicator yang ada dalam silabus dapat dilembangkan secara kontekstual dengan mempertimbangkan lingkungan dan sumber lain yang relevan, agar pembelajaran lebih bermakna bagi peserta didik dan dalam kehidupan sehari-hari serta mampu memecahkan masalah kehidupannya[3]

B.     Prinsip Pengembangan RPP
Pengembangan RPP ini tak lepas dari pengembangan silabus yang telah disusun di awal tahun ajaran baru, oleh guru,MGMP, KKG maupun bersama kepala sekolah, silabus yang telah di sepakati ini akan di jabarkan dan di kembangkan lagi menjadi RPP, rencana pelaksanaan pembelajaran  ini merupakan penjabarkan dari tiap-tiap KD yang telah di kembangkan dalam silabus,
Prinsip-prinsip Penyusunan RPP
a)      Memperhatikan perbedaan individu peserta didik
b)      Mendorong partisipasi aktif peserta didik
c)      Mengembangkan budaya membaca dan menulis
d)     Memberikan umpan balik dan tindak lanjut
e)      Keterkaitan dan keterpaduan
f)       Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi RPP
Dalam permendiknas no 41 tahun 2007 rancang  disusun dengan memuat komponen-komponen sebagai berikut :
1.      Identitas mata pelajaran
Identitas mata pelajaran meliputi : satuan pendidikan,kelas,semester,program atau program keahlian mata pelajaran dan jumlah pertemuan
2.      Standar komputensi
Merupakan standar minimal peserta didik yang menggambarkan penguasasaan pengetahuan,sikap dan ketrampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan semester pada satu mata pelajaran
3.      Komputensi dasar
Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasaipeserta didik dalam mata peelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indicator kompensasi dalam satu pelajaran


4.      Indicator pencapaian kompetensi
Indikator komputensi adalah perilaku yang dapat diukur untuk menunjukan ketercapainya kompetensi dasar tertentu yang menjadi acauan penilaian mata pelajaran
5.      Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar
6.      Materi ajar
Materi ajar memuat fakta,konsep materi ajar,prinsip dan prosedur,yang relevan dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan pencapaian indicator pencapaian kompetensi
7.      Alokasi waktu
Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar

8.      Metode pembelajaran
Metode pembelajaran digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indicator yang telah ditetapkan,pemilihan metode belajar disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik ,serta karakteristik dari setiap indicator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran
9.      kegiatan pembelajaran
a.       Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatau pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan peserta didik untuk partisipasi aktif dalam proses pembelajaran
b.      Inti
Kegiatan ini merupakan proses pembelajaran untuk KD,kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menanntang ,memotivasi peserta didik untuk berperan aktif, serta memberi ruang untuk kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat,minat serta perkembangan fisik dan psikologis peserta didik,kegiatan ini dilakuakan secara sistematis dan sistematik melalui proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi
c.       Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dilakuakan dalam bentuk rangkuman atau simpulan,penilaian refleksi,umpan balik,dan tindak lanjut 
10.  Penilaian hasil belajar
Prosedur dan penialain proses hasil belajar disesuaiakan dengan indicator pencapaian kompetensidan mengacu kepada standar penilaian



11.  Sumber belajar
Penentuan sumber belajar didasarkan pada setandar kompetensi dan kompetensi dasar ,serta materi ajar,kegiatan pembelajaran dan indicakator pencapaian kompetensi.[4]
C.    Prinsip-prinsip penyusunan RPP
Adapun prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam pengembangan RPP antara lain :
1.      Memperhatikan perbedaan individu peserta didik
2.      Mendorong partisipasi aktif peserta didik
3.      Mengembangkan budaya membaca dan menulis
4.      Memberikan umpan balik dan tindak lanjut
5.      Keterkaitan dan keterpaduan



Table 1
Contoh rencana pelaksanaan pembelajaran
Nama sekolah : smk ma’arif kebumen
Mata pelajaran : pendidikan agama islam
Kelas/semester : XII/2
Alokasi waktu : 2 x 45 menit
A.      STANDAR KOMPETENSI
4.Memahami ayat alquran tentang lingkungan hidup
B.       KOMPETENSI DASAR
4.1Membaca Q.S Al-baqoroh ayat 29
4.2Menjelaskan arti Q.S Al-baqoroh ayat 29
4.3Melakukan contoh seperti yang terkandung dalam Q.S Al-baqoroh ayat 29
C.       TUJUAN PEMBELAJARAN
a.        siswa dapat membaca Q.S Al-baqaroh ayat 29 dengan benar
b.        siswa dapat menjelaskan Q.S Al-baqaroh ayat 29
c.        siswa dapat melakukan contoh seperti yang terkandung pada  Q.S Al-baqaroh ayat 29
D.      MATERI PELAJARAN
a.        Q.S Al-baqaroh ayat 29
E.       SUMBER BAHAN / ALAT
a.        Al-qur’an dan terjemahannya
b.        Buku PAI kelas XII
c.        Buku lain yang relevan
F.       KEGIATAN PEMBELAJARAN
Langkah-langkah
Indicator
Pengalaman belajar
metode
Penilaian
4.1.1 mampu membaca Q.S Al-baqaroh ayat 29
4..1.2mampu mengidentifikasi tajwid Q.S Al-baqaroh ayat 29
4.2.1mampu mengartikan kata-perkata Q.S Al-baqaroh ayat 29
4.2.2.mampu menterjemah Q.S Al-baqaroh ayat 29
4.2.1 mampu menggali kandungan al- qur’an tentang lingkungan hidup
4.2.2mampu menerapkan Q.S Al-baqaroh ayat 29
Merealisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Q.S Al-baqaroh ayat 29
Tanya tjawab,diskusi,pemberian tugas
Jenis tagihan : tugas individual
Bentuk instrument
Lembar pengamatan
Jenis tagiahan tugas individual
Tugas kelompok,ulangan harian
Bentuk instrument : ulangan singkat
Jenis tagiahan :perilaku individu :
Bentuk istrumen : lembar pengamatan
Pengembangan  RPP merupakan kegiatan guru dalam merencanakan penyajian pembelajaran secara kontekstual dengan mengembangkan RPP secara mandri ,guru benar-benar telah siap menguasai materi pelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik .kemampuan guru mengembangkan RPP secara mandiri merupakan indicator bahwa guru telah menguasai materi ajar dan metode pembelajaran yang akan digunakan,sehingga menyebabkan perubahan peran dan fungsi guru dalam proses pembelajaran
Dengan diberlakukanya kurikulum KTSP,guru diberi otonomi yang luas untuk mengembangkan kuriulum, memodifikasi, atau mengubah agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang lebih specific dari peserta didik sekolah atau dareah, namun demikian, tampaknya guru belum mampu merespon kewenangan luas untuk lebih memaksimalkan proses maupun penilaian pembelajaran. Akibatnya, dalam pembelajaran guru masih berperan sebagai transformator dan belum berperan sebagai motivator yang dapat membangkitkan minat dan motivasi belajar peserta didik,[5]
Dengan mengembangkan RPP secara mandiri ,maka guru-guru mata pelajaran,khususnya guru madrasah akan lebih siap untuk mengimplementasikan dalam pembelajaran, sehingga dapat menggunakan pendekatan yang tepat. [6]

BAB III
KESIMPULAN
Pengembangan  RPP merupakan kegiatan guru dalam merencanakan penyajian pembelajaran secara kontekstual dengan mengembangkan RPP secara mandri.RPP merupakan suatu upaya memperkiarakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran
RPP yang lebih operasional dan terinci dan siap dijadikan pedoman pembelajaran sekurang-kurangnya memuat tujuan pembelajaran, materi ajar,metode pengajaran,sumber belajar dan penilaian hasil belajar
Dalam mengembangkan RPP guru diberi kebebasan untuk mengubah,memodifikasi dan menyesuaikan dengan karakteristik pesertaa didik,kondisi sekolah dan daerah,serta pemehaman guru itu sendiri dalam menjabarkan menjadi RPP sehingga dapat diimplementasikan dalam pembelajaran.


[1]  Lihat peraturan pemerintah No. 19/2005 pasal 20
[2]  E. Mulyasa, kurikulum tingkat satuan pendidikan,(Bandung : cv Merdeka Resdokarya,2006), hal 212-213
[3] Mansyur,metodologi pendidikan agama (jakarta: cv,forum,1981) hal 27
[4] E. Mulyasa, kurikulum tingkat satuan pendidikan,(Bandung : cv Merdeka Resdokarya,2006), hal 223

[5]  Lihat khaerudin dkk,kurikulum tingkat satuan pendidikan,hal 147
[6]  Rahmat raharjo,inovasi kurikulum PAI :pengembangan kurikulum dan pembelajaran,(Yogyakarta:magnum pustaka,2010),hal.100

skripsi peningkatan kompetensi guru PAI


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Dalam Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 dikemukakan bahwa Standar Nasional Pendidikan (SNP) terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Salah satu untuk meningkatkan mutu pendidikan yaitu guru. Peran guru sangat penting dalam mengajar dan mendidik siswa, serta dalam memajukan dunia pendidikan. Karena itu, guru harus memiliki  kompetensi yang sesuai dengan standar nasional pendidikan, agar ia dapat menjalankan tugas dan perannya dengan baik.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8: “ guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.[1])  Pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat (1): “Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 meliputi kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”.[2]) Guru diharapkan dapat menjalankan tugasnya secara profesional dengan memiliki dan menguasai ke empat kompetensi tersebut.
Akhir-akhir ini, profesi guru cenderung mulai banyak diminati oleh hampir sebagian anak bangsa, walaupun kecenderungan ini lebih didasarkan pada adanya peningkatan kesejahteraan guru. Hal ini karena kesejahteraan guru mulai diperhatikan oleh pemerintah, sementara itu diakui pula bahwa posisi guru di masyarakat dianggap sebagai individu yang bersahaja dan terhormat karena mempunyai kompetensi nilai, kepribadian serta skill di atas rata-rata masyarakat sekitarnya.[3])  
Di lapangan terlihat banyak guru yang belum memenuhi standar kompetensi sebagaimana yang diharapkan. Pertama, guru tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan mengelola peserta didik. Kedua, kepribadian guru masih labil. Ketiga, kemampuan pendidik sebagai  bagian dari masyarakat masih rendah. Keempat, penguasaan guru terhadap materi pembelajaran masih dangkal.[4]) Dalam menghadapi dan memecahkan berbagai problema yang sering muncul dalam pembelajaran diperlukan kemandirian guru. Dalam hal ini, guru harus mampu mengambil tindakan terhadap berbagai permasalahan secara tepat waktu dan tepat sasaran. Kemandirian  guru juga akan menjadi figur bagi peserta didik, sehingga mereka terbiasa untuk memecahkan masalah secara mandiri dan profesional.[5])
Peran guru sangat penting dalam pembentukan karakter dan sikap murid, karena murid membutuhkan contoh di samping pengetahuan tentang nilai baik-buruk, benar-salah, dan indah-tidak indah. Guru harus menjadi teladan bagi para siswanya, baik secara moral maupun intelektual. Guru harus unggul dalam pengetahuan dan memahami kebutuhan serta kemampuan para siswa. Tugas guru adalah melakukan bimbingan agar peserta didik memahami bakat mereka masing-masing, sehingga proses pembelajaran berjalan penuh makna.[6]) Karena itu, guru harus menguasai ilmu pedagogis dan berkepribadian.
Seorang guru hendaknya selalu memelihara minatnya terhadap pengetahuan dan ketrampilan, dan jangan sampai kehilangan minatnya itu, karena pekerjaan seorang guru atau pekerjaan mengajar dan mendidik itu adalah dinamis dan butuh persiapan dan kemantapan aspek pengetahuan dan emosi, bahkan spiritual. Tujuan utama pendidikan adalah mengembangkan moral peserta didik.[7]) Oleh karena itu, guru harus mencontohkan sikap, perbuatan, dan ucapan yang baik kepada peserta didik, sehingga mereka meneladaninya.
Madrasah Tsanawiyah Negeri Kebumen 1 merupakan salah satu madrasah yang berada di bawah naungan Departemen Agama di kabupaten Kebumen. Selain kualitas peserta didik yang baik, kualitas guru pun bisa dikatakan baik. Agar kualitas guru semakin baik maka diperlukan adanya sebuah upaya untuk meningkatkan kompetensi guru. MTs Negeri Kebumen 1 mempunyai beberapa upaya untuk meningkatkan kompetensi guru, seperti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), seminar atau workshop, pendidikan dan pelatihan (diklat), pengajian, internet, dan perpustakaan. Namun masih ada upaya yang belum dapat terlaksana dengan baik yaitu kegiatan pengajian. Agar upaya dapat berjalan dengan baik, maka kegiatan tersebut dilaksanakan di luar jam pelajaran sehingga semua guru bisa mengikutinya. Dengan upaya tersebut seorang guru Pendidikan Agama Islam di MTs Negeri Kebumen 1 diharapkan memiliki kompetensi yang memenuhi standar kompetensi sebagaimana yang diharapkan.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis memilih judul penelitian “Upaya Peningkatan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam di MTs Negeri Kebumen 1 Tahun Pelajaran 2012/2013.”
<!--more--> 
B.       Pembatasan Masalah
Untuk menghindari kesalahpahaman dan memudahkan penulis dalam meneliti dan mengkaji permasalahan dalam penelitian ini. Maka penulis menganggap perlu memberikan batasan dalam penelitian ini. Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah pada upaya peningkatan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam di MTs Negeri Kebumen 1 seperti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), seminar atau workshop, pendidikan dan pelatihan (diklat), pengajian, internet dan perpustakaan. 
C.      Perumusan Masalah
Berdasarkan yang penulis kemukakan di atas, maka ada beberapa pokok permasalahan yang akan dibahas dalam melaksanakan penelitian. Pokok permasalahan tersebut adalah:
1.    Bagaimana upaya peningkatan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam di MTs Negeri Kebumen 1?
2.    Apa dampak dari upaya peningkatan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam di MTs Negeri Kebumen 1?

Rabu, 24 Oktober 2012

Keutamaan dan Adab Membaca Al Qur’an



Keutamaan Al Qur’an Dan Pembacanya

1.      Merupakan semulia-mulia ilmu dari seluruh ilmu yang lainnya. Sebagaimana sabda Nabi    shallallahu ‘alaihi wasallam:Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengamalkannya.” (HR. Al Bukhari)
2.       Al Qur’an itu akan menjadi syafa’at terhadap orang yang membacanya nanti pada hari kiamat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:“Bacalah kalian Al Qur’an karena dia (Al Qur’an) itu akan datang pada hari kiamat memberi syafa’at bagi pembacanya.” (HR. Ahmad)
3.       Semakin banyak seseorang membaca Al Qur’an maka akan semakin tinggi pula derajatnya di surga nanti. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:“Dikatakan kepada orang yang membaca Al Qur’an pada hari kiamat “bacalah!”, naikan, dan tartilkanlah sebagaimana kamu membaca tartil di dunia karena kedudukanmu (di surga) sesuai dengan akhir ayat yang kalian baca.”
4.      Bahwa satu huruf dari Al Qur’an itu sama dengan satu kebaikan, lalu satu kebaikan itu akan Allah berikan sepuluh pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur’an) maka baginya satu kebaikan, dan kebaikan itu akan dilipatkan sepuluh kali pahala. Tidaklah aku katakan bahwa ‘Alif lam mim’ itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, mim satu huruf.” (HR. At Tirmidzi)
5.      Bahwa satu ayat Al Qur’an itu lebih utama dari pada satu unta yang besar, yang unta itu merupakan semewah kendaraan dan perhiasan di zaman itu. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
Dari ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah keluar menengok kami, sedang kami di shuffah (di belakang masjid) seraya mengatakan:
“Apakah kalian ingin pergi ke Baththan (suatu tempat di Madinah) atau ‘Aqiq (padang pasir di Madinah) untuk mengambil dua unta yang sangat besar tanpa melakukan dosa dan memutus silaturahmi?” Mereka mengatakan, “Kami semua menyukainya wahai Rasulullah.” Maka beliau bersabda: “Apakah di antara kalian tidak pergi ke masjid untuk belajar dua ayat itu lebih bagus dari dua unta, tiga ayat lebih bagus dari pada tiga unta, empat ayat lebih bagus dari pada empat unta, dan dari seluruh jumlahannya.” (HR. Muslim dan Ahmad)
6.      Wahai saudaraku, padahal kalau kalian ketahui bahwa sekarang ini unta yang bagus kadang harganya menyamai mobil yang mewah, bahkan kadang melebihinya. Oleh karena itulah orang yang betul-betul kaya secara hakiki adalah yang hafal Al Qur’an atau yang membacanya setiap hari dengan memperbaiki bacaan dan melakukannya secara ikhlas karena Allah Azza wa Jalla.
Orang yang ahli dalam Al Qur’an itu menjadi keluarga Allah Azza wa Jalla, menjadi orang yang khusus di sisi Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Bahwasanya Allah itu mempunyai keluarga, siapakah itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: orang yang ahli dalam Al Qur’an mereka itulah keluarga Allah dan orang khususnya.” (HR. Ahmad)
7.      Mereka pembaca Al Qur’an itu akan mendapatkan ketenangan, rahmat dan ampunan dari Allah serta akan dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah akan selalu menyebutnya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam satu masjid dari masjid Allah Azza wa Jalla, mereka membaca Kitabullah (Al Qur’an), saling mengajar di antara mereka kecuali akan turun kepada mereka suatu ketenangan, akan diliputi rahmat dan akan dikelilingi oleh para malaikat dan Allah Azza wa Jalla akan selalu menyebutnya di sisi-Nya.” (HR. Muslim)
8.      Orang yang mahir dalam Al Qur’an akan masuk surga bersama para malaikat yang mulia. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Bahwa orang yang pandai dalam Al Qur’an itu akan bersama para malaikat yang mulia dan siapa yang membaca Al Qur’an dengan tersendat-sendat (terbata-bata) dan mereka merasa berat maka baginya dua pahala.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
9.      Keutamaan ini tidak hanya terbatas kepada pembaca Al Qur’an saja bahkan orang tua yang mempunyai anak, lalu anak itu membaca Al Qur’an dan mengamalkannya maka Allah Azza wa Jalla akan memberikan mahkota kepada kedua orang tua anak tadi pada hari kiamat, yang cahaya mahkota itu lebih bagus dari cahaya sinar matahari. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
Dari Sahl bin Muadz Al Juhhany berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Barangsiapa yang membaca Al Qur’an dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya, maka (Allah) akan memberikan mahkota kepada kedua orangtuanya pada hari kiamat yang cahayanya lebih bagus dari sinar matahari.” (HR. Ahmad)
Wahai saudaraku ini balasan bagi kedua orangtuanya, lalu bagaimana dengan pembacanya sendiri, tentu akan lebih bagus balasannya dari Allah Azza wa Jalla, maka sungguh suatu kenikmatan yang besar bagi orangtua yang mempunyai anak lalu anak itu dididik untuk selalu membaca dan memahami Al Qur’an sejak sedini mungkin.
10.  Bahkan satu ayat Al Qur’an itu lebih bagus dari seluruh apa yang ada di muka bumi ini, mulai dari harta, emas, perak dan berlian, bangunan yang tinggi, seluruh ikan yang ada di lautan, seluruh harta benda yang ada di dalam bumi dan seterusnya. Sebagaimana kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
“Bahwasanya dia mengajarkan Al Qur’an maka sampailah pada satu ayat maka beliau katakan kepada salah seorang, “Ambillah (ayat itu), demi Allah sungguh dia (satu ayat) itu lebih bagus dari segala sesuatu yang ada di muka bumi.” (HR. Al Haitsamy)
11.  Rumah yang di dalamnya dibaca ayat-ayat Allah Azza wa Jalla akan terlihat oleh penduduk langit yaitu para malaikat, dan rumah yang tidak disebut di dalamnya ayat Allah Azza wa Jalla ibarat rumah yahudi dan nashrani. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Jadikanlah bacaan dan shalat kalian di rumah kalian, dan janganlah kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan, sebagaimana orang yahudi dan nashrani yang menjadikan rumah mereka kuburan. Sesungguhnya rumah yang dibaca di dalamnya Al Qur’an maka akan terlihat oleh penduduk langit sebagaimana terlihatnya bintang oleh penduduk bumi.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)
12.  Tiga ayat yang dibaca dalam satu shalat itu lebih bagus dari tiga unta yang sangat besar. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Siapa di antara kalian yang pulang ke keluarganya dengan mendapatkan tiga unta yang besar dan gemuk?” Mereka jawab, “Iya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga ayat yang kalian baca dalam shalatnya itu lebih bagus dari pada tiga unta besar dan gemuk.” (HR. Muslim)
13.  Syaithan akan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat Al Baqarah. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
14.  Dilarang kita iri dengki kecuali dalam dua perkara, terhadap pengamal Al Qur’an dan orang yang selalu bershadaqah. Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Tidak boleh iri dengki kecuali dalam dua perkara: seseorang yang Allah berikan Al Qur’an kepadanya, dia membacanya baik malam maupun siang dan seseorang yang Allah berikan kepadanya harta benda lalu ia shadaqahkan baik malam ataupun siang.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
15.  Masih banyak keutamaan lainnya, namun cukup bagi kita untuk senantiasa belajar, menghafal, dan mengamalkan Al Qur’an.

ADAB MEMBACA AL QUR’AN
Hendaknya seorang yang membaca Al Qur’an memperhatikan adab-adab dalam membaca kalam Allah Azza wa Jalla yang mulia ini, sebagaimana disebutkan berikut ini:
1. Hendaknya suci dari hadats besar atau kecil. Sebagaimana Imam Bukhari rahimahullah, beliau sebelum menulis Al Hadits, berwudlu kemudian shalat dua raka’at baru kemudian menulis Al Haditr, oleh karena itulah Allah jadikan kitab beliau sangat barakah dan bermanfaat bagi kaum muslimin. Namun Imam Bukhari sendiri telah memberikan suatu bab dalam Shahih Bukhari tentang membaca Al Qur’an setelah hadats atau yang lainnya, demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla di semua waktunya.
2. Hendaknya menghadap kiblat dikala membaca Al Qur’an. Tetapi tidak mengapa kalau tidak menghadap kiblat, ini sebagai suatu keutamaan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat radhiyallahu ‘anhum dalam suatu perjalanan melantunkan bacaan Al Qur’an yang tidak mungkin kendaraan mereka selalu menghadap kiblat.
3. Menahan bacaan ketika sedang menguap. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap, jika di antara kalian bersin dan memuji kepada Allah maka bagi setiap orang muslim yang mendengarnya mengatakan “yarhamukallah” (semoga Allah merahmati kalian) adapun menguap itu dari syaithan, jika kalian menguap hendaklah menahannya dengan semampunya, karena jika kalian menguap maka tertawalah syaithan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Hendaknya berlindung kepada Allah dari godaan syaithan. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:
“Maka jika kalian mau membaca Al Qur’an hendaklah berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk.” (An Nahl: 98)
Adapun bunyinya adalah, “A’udzu billaahi minasy syaithanir rajiim”.
5. Tidak boleh meniru seperti suara perempuan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah telah mengutuk laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari)
Telah berkata Al Hafidz Ibnu Hajar dalam jilid 10/388: “Adapun celaan tasyabbuh dengan perkataan dan gaya berjalan itu khusus bagi yang sengaja, adapun yang memang diciptakan seperti itu maka diperintahkan agar senantiasa berusaha merubahnya.”
6. Tidak memutus bacaan Al Qur’an kecuali karena suatu darurat seperti menjawab salam.
7. Berusaha memperbagus suara. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
Dari Sa’ad bin Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Bukan jalan kami siapa yang tidak melagukan Al Qur’an.” (HR. Abu Dawud)
8. Membaca dalam keadaan khusyu’ dan berusaha memahami Al Qur’an. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau sekiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentunya mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An Nisaa’: 82)
“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad: 29)
9. Hendaknya bersih baju dan badan serta mengenakan siwak sebelum membaca, karena malaikat itu meletakkan mulutnya ke mulut pembaca. (HR. Ali bin Abi Thalib / Al Bazzar)
10. Berlindung kepada Allah dari ayat-ayat siksa dan meminta karunia-Nya ketika ada ayat-ayat rahmat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, saya shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu malam, ia mulai dengan surat Al Baqarah, saya berkata (dalam hati) ruku’ pada (ayat) seratus, kemudian berlalu, saya berkata ruku dengannya, kemudian meneruskan membaca An Nisaa’, kemudian Ali Imran, beliau baca dengan pelan, kalau lewat suatu ayat di dalamnya ada tasbih beliau bertasbih, ada ayat permintaan beliau meminta, ada ayat perlindungan beliau berlindung.” (HR. Muslim)
TIPE-TIPE MANUSIA DALAM MEMBACA AL QUR’AN
Para ulama qurra’ yang mu’tabar telah membagi tipe-tipe manusia dalam membaca Al Qur’an terbagi menjadi tiga macam:
1. Muhsin Ma’jur
Orang yang baik dalam membaca Al Qur’an dan mendapat pahala yaitu orang-orang yang membaca Al Qur’an dengan baik dan sempurna sebagaimana apa yang telah diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka orang seperti ini akan mendapatkan kemuliaan sebagaimana yang Rasulullah sabdakan:
“Bahwa orang yang pandai dalam Al Qur’an itu akan bersama dengan para malaikat yang mulia dan siapa yang membaca Al Qur’an dengan tersendat-sendat (terbata-bata) dan merasa keberatan maka baginya dua pahala.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
2. Musi’ Ma’dzur
Orang yang jelek bacaannya tapi mendapatkan udzur yaitu orang-orang yang sudah berusaha sekuat tenaga untuk belajar Al Qur’an tetapi dia tidak mampu membaca dengan baik atau tidak ada orang yang menunjukkan untuk belajar dengan sebenar-benarnya atau situasi yang tidak memungkinkan untuk belajar. Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al Baqarah: 286)
Namun hendaknya dia terus berusaha untuk memperbaiki bacaan Al Qur’an mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan sehingga dia mampu membaca dengan baik.
3. Musi’ Atsim
Orang yang jelek bacaannya dan mendapatkan dosa dari Allah Azza wa Jalla. Yaitu orang-orang yang merasa cukup dengan dirinya, mengandalkan otaknya atau hanya bersandar pada buku-buku yang ada dan merasa sombong untuk kembali kepada orang yang mengetahui dalam ilmu ini maka tidak diragukan lagi bahwa orang seperti ini akan mendapatkan dosa dan tidak ada udzur baginya.

Menjadi Guru Penuh Makna



Memahami kepribadian anak
Fase 0 sampai 3 tahun. Pada fase ini moralitas anak mulai dibentuk. Anak sudah dapat diperkenalkan pada sopan santun serta perbuatan baik-buruk. Pada fase ini, anak mencoba-coba melanggar aturan, sulit diatur, nakal, dan lain-lain. Jadi, sikap seorang guru dalam fase ini adalah kesabaran
Fase usia 4 tahun. Indikasi perilaku pada fase ini adalah senang melanggar aturan, memamerkan diri, dan memaksakan kinginannya. Fase ini disebu sebagai fase egosentris. Pada fase ini, sebetulnya anak sangat mudah di dorong untuk berbuat baik dan sudah memiliki kemampuan berempati.
Fase 4,5 sampai 6 tahun. Pada fase ini, anak mulai menunjukkan sifat penurutnya dan mulai bisa diajak kerjasama. Dalam bersosialisasi dengan teman-temannya, ia juga bisa menerima pendapat atau pandangan teman-temannya. Jadi, pada usia ini, anak terlihat lebih matang. Pada fase usia ini, seorang guru mulai memotivasi anak untuk bersikap baik dan melakukan hal-hal yang positif pula

Belajar dari anak usia dini
Anak kecil selalu menarik perhatian orang dewasa melalui elucuan, keriangan, keluguan, bahkan kenakalan sekalipun mereka bukan keluarga kita tetap peduli. Orang dewasa yang normal pasti peduli, suka, dan sayang pada anak kecil meskipun mereka kerap menjengkelkan. Salah satu contohnya ketika merengek minta sesuatu hingga menangis bahkan mengamuk. Lupa waktu dan selalu ingin bermain. Meski demikian, sebagai guru harus mampu melihat perilaku anak kecil dengan pikiran positif, sabar, dan mengambil makna dari perilaku anak kecil tersebut. Anak kecil memiliki kepolosan, kesucian, dan kejujuran sehingga jika kita ingin disukai dan menarik perhatian serta kepedulian hendaklah kita polos, bersih, dan jujur terutama menghadapi anak usia dini

Harapan dan motivasi
Harapan lahir dari kepekaan seseorang akan kemungkinan-kemungkinan bahwa perubahan ke arah lebih baik pasti akan terjadi. Guru tidak sekedar menunggu namun turut serta dalam mempercepat harapan diiringi dengan motivasi untuk selalu berbuat lebih baik sebagai manifestasi kebaikan melalui perencanaan yang baik

Strategi Menumbuhkan Motivasi
Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa yaitu sebagai berikut:
1.      Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
2.      Hadiah. Guru memberikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3.      Saingan/kompetisi. Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya dan berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4.      Pujian. Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian.  Pujian itu bersifat membangun.
5.      Hukuman. Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
6.      Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar. Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.

Proposal Skripsi Peranan Guru sebagai Motivator dalam Pembelajaran PAI

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Sejalan dengan pergeseran makna pembelajaran dari pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher oriented) ke pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student oriented), maka peran guru dalam proses pembelajaran pun mengalami pergeseran, salah satunya adalah penguatan peran guru sebagai motivator. Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu, guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa.[1]) Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa, sehingga terbentuk perilaku belajar siswa yang efektif.
Peran guru sangat penting dalam pembentukan karakter dan sikap murid, karena murid membutuhkan contoh di samping pengetahuan tentang nilai baik-buruk, benar-salah, dan indah-tidak indah. Guru harus menjadi teladan bagi para siswanya, baik secara moral maupun intelektual.[2]) Guru harus unggul dala pengetahuan dan memahami kebutuhan serta kemampuan para siswa. Tugas guru adalah melakukan bimbingan agar peserta didik memahami bakat mereka masing-masing, sehingga proses pembelajaran berjalan penuh makna.[3]) Karena itu, guru harus menguasai ilmu pedagogis dan berkepribadian. <!--more-->
Dalam proses pembelajaran siswalah yang seharusnya berperan aktif dalam proses pembelajaran. Guru hanya memfasilitasi bagaimana proses “learning by doing” itu dilaksanakan. Dengan cara ini diharapkan siswa termotivasi untuk mengaktulasisasi potensi siswa secara optimal. Guru hanya mengarahkan jalannya belajar siswa, apabila siswa sedang mengalami kesalahan dalam mengaktualisasikan pikirannya. Inilah harapan supaya pembelajaran siswa aktif dengan sendirinya.
Pembelajaran aktif adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan mata pelajaran yang dipelajarinya. Siswa lebih aktif mempelajari materi pembelajaran yang menyiapkan siswa untuk hidup, dalam proses belajar – mengajar yang mengaktifkan siswa, siswa diberikan bahan ajar yang telah jadi, atau sudah selesai untuk tinggal menghapal, tetapidibutuhkan pencarian-pencarian yang memerlukan pengamatan, percobaan, analisis, sintetis, perbandingan, penilaian, dan penyimpulan oleh peserta didik itu sendiri.[4]) Informasi yang diterima lebih lama diingat dan disimpan, dan lebih menikmati suasana kelas yang nyaman. Siswa mengemukakan pendapat, tanya jawab, mengembangkan pengetahuannya, memecahkan masalah, diskusi, dan menarik kesimpulan. Peran guru tidak dominan menguasai proses pembelajaran melainkan memberikan kemudahan. Pada saat mengajar para guru sering dihadapkan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan bagaimana cara guru mempermudah belajar siswa. Guru perlu memberi kemudahan fasilitator dalam menyampaikan informasi. Sebaliknya peserta didik yang memperoleh kemudahan dalam menerima informasi akan belajar bergairah dan termotivasi. Dengan kata lain siswa belajar dengan aktif dengan sendirinya tanpa mengantungkan perintah dari guru. Kegiatan pembelajaran aktif antara lain, tanya jawab, diskusi, inkuiri, dan lain-lain.
Belajar aktif sangat diperlukan oleh peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika  peserta didik pasif, atau hanya menerima dari pengajar, ada kecenderungan untuk cepat  melupakan apa yang telah diberikan. Oleh sebab itu diperlukan perangkat tertentu untuk dapat mengikat informasi yang baru saja diterima pendidik. Menurut Zaini,dkk belajar aktif adalah salah satu cara untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak.
Pembelajaran merupakan suatu proses yang komplek dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Oleh karena itu, untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan,
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis memilih judul penelitian
“Peran Guru Pendidikan Agama Islam sebagai Motivator dan Fasilitator dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Sruweng Tahun Pelajaran 2012/2013”

B.     Pembatasan Masalah
Untuk menghindari kesalahpahaman dan memudahkan penulis dalam meneliti dan mengkaji permasalahan dalam penelitian ini. Maka penulis menganggap perlu memberikan batasan dalam penelitian ini. Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah Peran guru Pendidikan Agama Islam sebagai motivator dan fasilitator dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Sruweng kecamatan Sruweng,

C.    Perumusan Masalah
Berdasarkan yang penulis kemukakan di atas, maka ada beberapa pokok permasalahan yang akan dibahas dalam melaksanakan penelitian. Pokok permasalahan tersebut adalah:
1.      Bagaimana peran guru Pendidikan Agama Islam sebagai motivator dan fasilitator dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Sruweng kecamatan Sruweng?
2.      Apa dampak peran guru Pendidikan Agama Islam  sebagai motivator dan fasilitator dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Sruweng?

download selengkapnya  skripsi Guru sebagai Motivator dan Fasilitator